• RSS PONPEST ALKAUTSAR

  • RSS cara membuat website buat pemula

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • DAAR-EL ISTIQOMAH

    Pesantren Modern Daar El-Istiqomah, Serang: Cetak Juru Dakwah Mumpuni Selasa, 18 Maret 2008 Ditunjang penerapan kurikulum Pondok Pesantren Modern Gontor, lulusan pesantren ini diharapkan mampu menjadi juru dakwah yang handal untuk berbagai lapisan masyarakat. Pondok Pesantren Modern Daar El-Istiqomah (PPMDI) di Kelurahan Sukawana, Kecamatan Serang, Kota Serang, Provinsi Banten ini menempati lahan 1,3 hektar di pinggir jalan tol Merak – Tangerang. Letaknya yang agak masuk ke dalam, pesantren yang berdekatan dengan Gerbang Tol Serang Timur ini akan lebih mudah dicapai dengan menggunakan jasa tukang ojek. Meski berada di Kota Serang, posisi pesantren yang dipimpin Drs H Sulaeman Ma’ruf ini tidak bersentuhan langsung dengan hiruk pikuk keramaian Kota Serang. Menjadikan proses belajar mengajar yang diikuti para santri di PPMDI relatif tenang. Terlebih lingkungan sekitar pesantren masih kental dengan nuansa persawahan. Saat ini jumlah santri yang menimba ilmu di PPMDI mencapai 200 orang. Para santri ini berasal dari berbagai daerah mulai dari kawasan Banten(Serang, Cilegon, Pandeglang, Labuan, dan Tangerang), Jakarta, Jawa Barat (Karawang dan sekitarnya) hingga dari luar pulau seperti Sumatera dan Irian Jaya. Sistem asrama, mewajibkan santri tinggal berada di dalam lingkungan asrama PPMDI. Meski ada santri yang berasal dari lingkungan sekitar, mereka tetap harus berada di dalam asrama. Layaknya pesantren pada umumnya, asrama santri putri terpisah dari santri putra. Pemisahan ini juga terus berlangsung selama proses kegiatan belajar mengajar hingga kegiatan ekstrakurikuler. Meski dalam lokasi dan kegiatan yang sama sama, santtri putra dan putri tidak bisa berbaur. Menginduk ke Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, kurikulum yang digunakan PPMDI mengacu pada kurikulum pesantren induk. Sistem kelas dan pemakaian tiga bahasa dalam aktivitas sehari-hari menjadi pembeda antara pesantren tradisional dengan jenis pesantren modern seperti ini. Saat ini PPMDI menyelenggarakan pendidikan dari tingkat TK/TPA, Madrasah Ibtidaiyah/ Diniyah, Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah. Penggunaan bahasa setiap minggu sekali berbeda. Seminggu memakai bahasa inggris, minggu berikutnya memakai bahasa arab. Hampir selama 24 jam, para santri aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Jam 04.00 wib para santri sudah bangun untuk persiapan sholat subuh. Usai sholat subuh, para santri mengikuti kegiatan pengayaan kosakata hingga jam 06.00 wib. Usai kegiatan pengayaan kosakata, para santri bersiap hingga masuk sekolah pukul 07.00 wib sampai 12.15.wib. Kegiatan di sore hari dimuali pukul 14.00 hingga 15.00 untuk tambahan pelajaran bahasa inggris dan bahasa arab. Usai sholat Ashar, dilanjutkan lagi dengan kegiatan ekstrakurikuler seperti marching band, marawis, qasidah, kaligrafi dan sebagainya. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 17.30. Usai sholat maghrib berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan mengaji bersama hingga isya’. Selanjutnya para santri belajar di kelas atau di masjid hingga pukul 22.00 wib untuk perispan sekolah besok. Untuk menciptakan santri-santri yang ulung dalam berorasi, dalam sepekan ada tiga kali pelajaran dan praktek pidato. Pada hari Minggu malam, pidato menggunakan bahasa Inggris, hari Kamis siang pidato bahasa arab dan Kamis malam pidato bahasa arab. Beragam prestasi telah diraih para santri dsari kegiatan belajar mengajar yang hampir 24 jam ini. Awal Berdiri Cikal bakal berdirinya PPMDI merupakan perkembangan dari sebuah pengajian keliling. Syam’iah Suchaemi merupakan seorang pengajr privat Alquran dari rumah ke rumah. Aktivitas yang dimulai pada 1984 ini, dari pengajian keliling terus berkembang seiring semakin banyaknya keluarga yang ingin belajar Alquran. Meningkatnya permintaan masyarakat tersebut tidak seluruhnya tertangani. Atas saran beberapa tokoh agama serta restu dan dukungan sang suami, Mohamad Masdani, akhirnya bentuk pengajian dialihkan dari privat menjadi bentuk umum. Dari bentuk guru datang ke rumah murid menjadi murid yang mendatangi guru. Pengajian pertama diadakan di rumah Mohamad Masdani dengan pembimbing empat orang ulama yaitu Syam’iah Suchaemi, Mohamad Masdani, Drs Sulaeman Ma’ruf, dan Syamsul Ma’arif. Meski baru pertama kalinya, peserta pengajian ini melimpah hingga mencapai lebih dari 100 orang mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa hjadir dalam pengajian yang pertamakali digelar tersebut. Berbeda dengan bentuk privat yang banyak mengajarkan tajwid, privat Al-Quran, materi pengajian umum semakin luas. Pada pengajianumum materi aqidah dan akhlak, fiqih dan ibadah turut disampaikan. Bahkan dalam pengajian ini juga ada latihan pidato yang dilaksanakan usai sholat Maghrib hingga pukul 21.00 wib. Setelah berjalan hampir dua tahun, pada saat silaturahmi Idul Fitri 18 Juni 1986 (10 Syawal 1406 H), Abdul Ghani yang juga tokoh masyarakat setempat mengusulkan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan pesantren di tempat pengajian itu sekaligus mendaulat saya sebagai pimpinannya, ujar Sulaeman. Dengan dorongan Abdul Ghani dan Mohamad Masdani (alm) akhirnya Sulaeman Ma’ruf menyatakan siap. Dukungan juga datang dari Siradj Halim, Lurah Kelurahan Penancangan saat itu dan Dr H Baihaqi AK, Dekan Fakultas Syari’ah IAIN SMH Serang saat itu, serta masyarakat yang hadir dalam silaturahmi dan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw pada 1987 di rumah Mohamad Masdani.(ass)
  • Arsip

  • RSS Bagaimana cara agar tidak mudah lupa dalam menghapal

    • Apa Hukum Laki-Laki Muslim Menikahi Wanita Non Muslim? Desember 10, 2007
      Realita kaum muslimin sekarang banyak yang menikah dengan wanita dari kalangan umat agama lain dengan alasan berdakwah dengan harapan wanita yang dinikahinya akan masuk Islam, sebenarnya bagaimanakah hukum seorang laki-laki muslim menikahi wanita non muslim? Bagaimana juga dengan hukum wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki non muslim? Informasi Sumbe […]
      abu zulfan
    • Kerja Mengurus Sampah Apakah Halal? Desember 7, 2007
      Apakah mengurus sampah itu pekerjaan yang halal dan thayib mengingat di tempat seperti itu banyak kotoran-kotoran baik manusia maupun binatang? Informasi Sumber : Rekaman dari seorang ikhwan Penjawab : Ustadz Armen Halim Naro rahimahullahu Tipe file : mp3 Ukuran file : 229 kb Durasi : 00:01:57 Pilih link di bawah ini untuk mendownload
      abu zulfan
    • Bagaimana Membayar Shalat yang Ditinggalkan dengan Sengaja? November 21, 2007
      Bagaimana cara membayar shalat yang dilakukan karena masih jahil atau lalai? Dan bagaimana cara bertaubatnya? Informasi Sumber : Radio Taruna Al Qur’an Penjawab : Ustadz Aris Munandar hafidzahullahu Tipe file : mp3 Ukuran file : 867 kb Durasi : 00:07:24 Pilih link di bawah ini untuk mendownload
      abu zulfan
    • Bolehkah Menisbatkan Diri dengan Nama Salafi? November 20, 2007
      Apakah kita diperbolehkan menisbatkan (menyandarkan) diri kepada salafi ketika kita bersama-sama dengan ikhwan salafiyyin yang lain? Kalau tidak boleh menisbatkan kepada salafi maka kita menisbatkan kepada siapa? Informasi Sumber : CD Untaian Nasehat Penjawab : Ustadz Arifin Badri hafidzahullahu Tipe file : mp3 Ukuran file : 569 kb Durasi : 00:04:51 Pilih li […]
      abu zulfan
    • Apakah Sekarang Surga dan Neraka Masih Kosong? November 19, 2007
      Apa benar surga dan neraka sampai kini masih kosong? Bagaimana ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mi’raj melihat penduduk surga serta penduduk neraka yang sedang disiksa? Bukankah hal tersebut menandakan bahwa surga dan neraka sudah berpenghuni? Informasi Sumber : Unknown Penjawab : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzahullahu Tipe file : m […]
      abu zulfan
    • Orang yang Mati Bunuh Diri Bolehkah Dishalatkan? November 15, 2007
      Bolehkah kita menshalati orang yang meninggal karena bunuh diri? Kalau tidak boleh lalu siapa yang menshalatinya? Informasi Sumber : CD Untaian Nasehat Penjawab : Ustadz Anas Burhanuddin hafidzahullahu Tipe file : mp3 Ukuran file : 174 kb Durasi : 00:01:29 Pilih link di bawah ini untuk mendownload
      abu zulfan
    • Apakah Maksud Hadits Tentang Kefakiran Nyaris Membuat Kafir? November 14, 2007
      Apakah maksud hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa nyaris kefakiran membuat orang menjadi kafir? Kemuliaan ahli ilmu dan ahli harta adalah berbeda, lalu bagaimana jika sesorang disamping dia berilmu juga berharta, bukankah itu lebih baik? Informasi Sumber : Rekaman dari seorang ikhwan Penjawab : Ustadz Armen Halim Naro rahima […]
      abu zulfan
    • Apa Syarat-syarat yang Harus Dimiliki Seseorang untuk Mentahdzir? November 13, 2007
      Apakah syarat-syarat yang harus dimiliki jika seseorang ingin mentahdzir orang lain beserta dalil-dalinya? Apakah penuntut ilmu pemula seperti kita boleh mentahdzir? Informasi Sumber : Unknown Penjawab : Ustadz Abu Ihsan Al Maidani hafidzahullahu Tipe file : mp3 Ukuran file : 496 kb Durasi : 00:03:53 Pilih link di bawah ini untuk mendownload
      abu zulfan
    • Apakah Al Qur’an Juga Mengajarkan Sains? November 12, 2007
      Dalam surat An Naml ayat 88, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”, apakah tafsiran ayat tersebut sesuai dengan t […]
      abu zulfan
    • Apakah Batasan Hubungan Ikhwan dan Akhwat yang Bukan Mahram? November 9, 2007
      Apakah batas-batas hubungan antara ikhwan dengan akhwat yang bukan mahram dan apa hukumnya jika kita mempunyai rasa cinta kepada akhwat? Bagaimana cara mengatasi rasa cinta yang bukan pada tempatnya tersebut? Informasi Sumber : Radio Taruna Al Qur’an Penjawab : Ustadz Aris Munandar hafidzahullahu Tipe file : mp3 Ukuran file : 1,49 mb Durasi : 00:13:05 [...] […]
      abu zulfan
  • TIPS UJIAN NASIONAL 2009

    TIPS UJIAN NASIONAL 2009 1. BELAJAR LEBIH GIAT Belajar tidak hanya membaca, kerjakan soal-soal latihan UN lebih Spesifik sesuai kisi-kisi yang diberikan sekolah. Lakukan sesering mungkin hingga paham semua jenis dan variasi soal. 2. DISKUSI DENGAN ORANG LAIN Diskusikan dengan teman anda setiap kesulitan atau persoalan yang belum anda pahami dan jangan lupa selalu meminta bimbingan dan petunjuk guru. 3. MILIKI GAMBARAN YANG JELAS Milikilah gambaran tentang ujian nasional karena dengan itu anda akan dapat menetukan target dan langkah terbaik. Miliki gambaran tentang kapan UN dilaksanakan, standard an kreteria kelulusan, jumlah soal, waktu mengerjakaqn soal, jadwal mata pelajaran UN dan lain-lain. Tentukan target perolehan nilai anda dengan jelas dan lakukan dengan penuh komitmen untuk memperolehnya. 4. MINTALAH DO’A RESTU ORANG TUA, GURU DAN ORANG LAIN Kekuatan do’a orangtua, guru dan orang lain yang membantu kita akan menjadi dorongan semangat, motivasi yang mampuh membuka sekat-sekat kesulitan dan hambatan. Kenapa? Karena ketika jalan lahiriyah/logika sudah tidak mampuh lagi “membuka sekat-sekat kesulitan itu maka kekuatan batiniah (do’a) akan mampuh menhancurkannya.(*)

Perkakas ‹ Saeful Bahri81’s Blog — WordPress

YOGYAKARTA

LEGENDA CANDI PRAMBANAN
Kompleks Candi Prambanan di dekat Yogyakarta

Di dekat kota Yogyakarta terdapat candi Hindu yang paling indah di Indonesia. Candi ini dibangun dalam abad kesembilan Masehi. Karena terletak di desa Prambanan, maka candi ini disebut candi Prambanan tetapi juga terkenal sebagai candi Lara Jonggrang, sebuah nama yang diambil dari legenda Lara Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Beginilah ceritanya.

Konon tersebutlah seorang raja yang bernama Prabu Baka. Beliau bertahta di Prambanan. Raja ini seorang raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya. Meskipun demikian, kalau sudah takdir, akhirnya dia kalah juga dengan Raja Pengging. Prabu Baka meninggal di medan perang. Kemenangan Raja Pengging itu disebabkan karena bantuan orang kuat yang bernama Bondowoso yang juga terkenal sebagai Bandung Bondowoso karena dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung.

Dengan persetujuan Raja Pengging, Bandung Bondowoso menempati Istana Prambanan. Di sini dia terpesona oleh kecantikan Lara Jonggrang, putri bekas lawannya — ya, bahkan putri raja yang dibunuhnya. Bagaimanapun juga, dia akan memperistrinya.

Lara Jonggrang takut menolak pinangan itu. Namun demikian, dia tidak akan menerimanya begitu saja. Dia mau kawin dengan Bandung Bondowoso asalkan syarat-syaratnya dipenuhi. Syaratnya ialah supaya dia dibuatkan seribu candi dan dua sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso menyanggupinya, meskipun agak keberatan. Dia minta bantuan ayahnya sendiri, orang sakti yang mempunyai balatentara roh-roh halus.

Pada hari yang ditentukan, Bandung Bondowoso beserta pengikutnya dan roh-roh halus mulai membangun candi yang besar jumlahnya itu. Sangatlah mengherankan cara dan kecepatan mereka bekerja. Sesudah jam empat pagi hanya tinggal lima buah candi yang harus disiapkan. Di samping itu sumurnya pun sudah hampir selesai.

Seluruh penghuni Istana Prambanan menjadi kebingungan karena mereka yakin bahwa semua syarat Lara Jonggrang akan terpenuhi. Apa yang harus diperbuat? Segera gadis-gadis dibangunkan dan disuruh menumbuk padi di lesung serta menaburkan bunga yang harum baunya. Mendengar bunyi lesung dan mencium bau bunga-bungaan yang harum, roh-roh halus menghentikan pekerjaan mereka karena mereka kira hari sudah siang. Pembuatan candi kurang sebuah, tetapi apa hendak dikata, roh halus berhenti mengerjakan tugasnya dan tanpa bantuan mereka tidak mungkin Bandung Bondowoso menyelesaikannya.

Keesokan harinya waktu Bandung Bondowoso mengetahui bahwa usahanya gagal, bukan main marahnya. Dia mengutuk para gadis di sekitar Prambanan — tidak akan ada orang yang mau memperistri mereka sampai mereka menjadi perawan tua. Sedangkan Lara Jonggrang sendiri dikutuk menjadi arca. Arca tersebut terdapat dalam ruang candi yang besar yang sampai sekarang dinamai candi Lara Jonggrang. Candi-candi yang ada di dekatnya disebut Candi Sewu yang artinya seribu.

CERPEN : IMPIAN KASIH

Oleh Norzehana Yusof

“Mudah-mudahankan, abang.” Lelaki di hadapannya itu hanya menganggukkan kepala. Terselit rasa bahagia yang mula berbunga di tangkai hatinya.

“Tapi, Sarah tak dapat bantu apa-apa. Sarah cuma dapat doakan abang berjaya capai impian abang tu.” Maisarah tersentak apabila bibirnya ditutup oleh tangan suaminya itu. “Impian kita.

That’s not only my dream.” Johan menarik tangannya semula.

Dia cuba memperbetulkan ungkapan yang terkeluar daripada bibir isterinya itu.

“Ok, our dream. Tapi, Sarah tak tolong abang pun.

Kalaulah Sarah tahu uruskan bisnes tentu Sarah dapat bantu abang.” Suara itu begitu perlahan sekali menerpa gegendang telinga lelaki di hadapannya itu.

Johan mencapai jemari lembut itu dan mengelusnya perlahan.

“Sarah tak dapat bantu abang tak bermakna kita tak dapat berkongsi impian.

Abang buat semua ni untuk kita dan Ika. Dorongan dan sokongan sayang buat abang kuat menempuh cabaran. Now, kita dah berjaya. Abang tak rasa abang mampu lakukannya tanpa Sarah dan Ika.” Maisarah merenung ke dalam anak mata itu lama. Cuba mencari keikhlasan di sebalik kata-kata lembut itu.

Adakah lelaki itu sudah lupa sejarah mereka dahulu? Ah! Mungkin Johan tidak mahu mengungkit kisah lama. Mereka sudah berjanji untuk tidak membuka kisah silam itu.

“Apa yang dimenungkan ni? Dah lewat nampaknya. Mari kita balik. Nanti Ika bising pula bila tengok kita balik lambat. Tentu dia tak tidur lagi.” Maisarah tersentak lantas menganggukkan kepala. Segera teringatkan anak kecilnya itu yang sudah berusia lapan tahun.

Johan mencapai jemarinya dan digenggam erat. Mereka berjalan beriringan meninggalkan kafe hotel bertaraf lima bintang itu. Senyuman tidak lekang daripada bibirnya.

Maisarah bersyukur mendapat suami yang bertanggungjawab dan penyayang seperti Johan.

“Kalau ditakdirkan abang pergi dulu, Sarah jagalah Ika baikbaik.” Tersentak jantungnya apabila kata-kata itu menampar cuping telinganya. Maisarah menegakkan badannya sambil merenung ke arah suaminya itu.

“Don’t say like that. I don’t like it.” Maisarah mengerutkan dahinya. Sungguh dia menyangka Johan akan menyebut tentang kematian ketika dia sedang dilamun angan-angan indah bersama suaminya itu.

“Ajal maut di tangan Tuhan.

Walau apa pun yang berlaku, abang nak Sarah tahu abang sayangkan Sarah dan Ika hingga ke akhir hayat.” Maisarah mula tidak sedap hati apabila Johan asyik menyebut tentang kematian.

“Sarah pun sayangkan abang.” Maisarah membalas ucapan sayang itu walaupun di hatinya mula berbunga curiga. Mengapa kata-kata yang terbit daripada bibir suaminya itu agak berlainan malam itu.

Persoalan itu hanya bermain di benaknya saja tanpa jawapan. Maisarah menggosok matanya.

Malam makin larut. Guruh di langit jelas kedengaran. Kilat sabung menyabung. Kedinginan mula menusuk ke tulang.

Maisarah menguap. Matanya mula mengantuk. Johan di sebelahnya tidak bersuara.

Hanya kedengaran lagu yang berkumandang di corong radio.

Maisarah menggosok matanya yang semakin mengecil dan akhirnya tertutup.

Tiba-tiba dia terjaga daripada lena. Dia merasakan badannya terhentak kuat sebelum dilambung seperti bola. Maisarah tersentak apabila melihat dirinya berada di tebing yang curam.

“Abang!!” Hanya wajah itu terlintas di fikirannya saat itu.

“Abang!” Maisarah menjerit kuat apabila melihat kereta yang dipandu suaminya terhumban ke dalam gaung tidak jauh dari tempat dia terbaring. Dia berlari ke tebing yang curam itu.

Namun suasana malam yang gelap gelita menyukarkan penglihatannya.

“Abang!!”Jeritannya bergema di lorong yang gelap itu. Matanya berpinar sebelum rebah ke tanah.

Tubuhnya disandarkan ke kerusi lemah. Kerusi itu dipusingkannya mengadap cermin telus yang menayangkan panorama yang cukup tenang dan damai sekali. Kalaulah hatinya juga sedamai itu. Alangkah bahagianya dia saat itu. Namun, kejadian sebulan yang lalu telah meragut seluruh kebahagiaan yang dibina olehnya selama ini.

Kedengaran sebuah keluhan terbit daripada bibir merekah itu. Maisarah melepaskan pandangannya jauh. Kalau boleh dia mahu membuang kedukaannya sejauh itu. Apapun yang dilakukannya, ia tetap berbekas dan menjadi parut yang tidak mungkin akan sembuh. Bunyi interkom yang terletak di atas meja membuatkannya berpaling.

“Puan Maisarah, ada guest nak jumpa puan.” Suara lembut setiausahanya itu melenyapkan memori yang bertandang di ingatannya tadi.

“Who?” Seingatnya dia tiada membuat sebarang temu janji pagi itu.

“Datin Karmila.” Bagai dipatuk ular Maisarah menegakkan tubuhnya yang bersandar di kerusi. Seribu satu perasaan kurang enak mula menguasai hatinya.

“Boleh saya bagi dia masuk?” Tiara bertanya apabila tiada jawapan yang terbit daripada bibirnya. “Ok.” Maisarah menjawab perlahan. Suaranya itu hampir tidak kedengaran.

Hatinya mula tidak keruan.

Apakah tujuan wanita itu mahu bertemu dengannya? Sedangkan selama ini, wanita itu berkeras tidak mahu memandang mukanya lagi. Maisarah berdoa di dalam hati. Dia membetulkan kedudukannya agar lebih selesa. Apa yang pasti, hatinya bagai dipukul badai ketika itu. Ketukan di pintu semakin menambah degupan di jantungnya yang semakin laju.

Seorang wanita separuh abad masuk. Mereka bertentangan mata seketika. Maisarah menelan air liur. Terasa jantungnya bagaikan berhenti berdegup ketika itu. “Silakan duduk, Datin.” Matanya memerhatikan wanita yang cukup bergaya itu melabuhkan punggung di sofa.

Mata wanita itu melilau melihat sekeliling pejabat. Lagaknya bagaikan pegawai polis yang sedang menyiasat.

“Datin, apa khabar?” Maisarah cuba memulakan bicara.

“Saya datang ke sini bukan untuk bertanya khabar. Saya rasa awak tentu faham maksud kedatangan saya ke mari. Saya tidak mahu membuang masa.” Begitu ego sekali wanita yang bernama Datin Karmila itu. Maisarah cuba menahan hatinya.

Kalau diikutkan hatinya, mahu saja dia menengking dan menghalau wanita itu keluar.

Namun dia masih lagi menghormati status wanita di hadapannya itu. “Ada lebih baik awak angkat kaki saja dan kita tak perlu memperbesarkan perkara yang kecil. Kita samasama tahu siapa yang lebih berhak.” Maisarah menghela nafasnya perlahan.

Tidak semudah itu dia akan mengalah. Apa hak wanita di hadapannya itu untuk mengambil alih syarikat yang telah dibina bertahun-tahun oleh arwah suaminya itu? “Datin jangan ingat saya akan mengalah begitu saja. Jika itu yang Datin ingat, Datin silap.

Saya akan mempertahankan hak saya.” Dia cuba menyatakan pendiriannya.

Dia sudah menjangka perkara itu akan berlaku.

Cuma tidak menyangka secepat itu.

Di kala dia masih lagi cuba meratapi kehilangan lelaki kesayangannya, dia menghadapi masalah yang terpaksa dihadapinya kini.

“Baik, kita tak perlu bertengkar.

Biar mahkamah tentukan siapa yang lebih berhak.” Datin Karmila bangun dan melangkah ke pintu meninggalkan Maisarah.

“Well, for your information.

Saya tak pernah anggap awak menantu saya. Jangan ingat awak akan dapat bolot walau sesen pun harta anak saya, faham?” Datin Karmila meninggalkannya dengan senyuman sinis.

Maisarah mengeluh perlahan.

Dirasakan ada batu yang menghempap kepalanya kala itu. Abang! Sarah tak kuat nak hadapi semua ni. Hatinya merintih sendiri.

“Kalau ditakdirkan abang pergi dulu, Sarah jagalah Ika baik-baik.” Bagaikan terngiang- ngiang kembali bait kata yang cukup meruntun hatinya. Rupanya itu adalah pesanan terakhir arwah suaminya sebelum meninggalkannya.

“Sarah akan jaga Ika baik-baik, bang.” Maisarah berkata sendiri.

Seolah-olah menjawab ungkapan kata suaminya itu.

Terasa bagaikan baru semalam suaminya itu pergi. Namun, dia tidak pernah menyalahkan takdir. Dia mahu menjadi kuat demi masa depan dia dan Ika.

Ika hanya ada dia sekarang.

Dia mesti kuat demi anak itu.

Setitis air mata jernih menitik daripada kelopak matanya. Ika di pangkuan- nya terjaga.

“Mama! Mama menangis, ya?” Anak kecil yang petah itu bertanya.

“Taklah, mata mama masuk habuk. Ika masuk tidur dulu, ya. Mama ada kerja nak buat.” Seperti biasa Ika akan mengucup tangan dan pipinya sebelum tidur.

“Night, mama.” Anaknya itu melangkah ke tingkat atas.

Lama direnungnya surat yang sampai ke mejanya pagi itu.

Surat bercop Fahmi & Associates itu dicapainya lemah.

Sejak menerima kedatangan Datin Karmila beberapa hari lepas, dia tidak senang duduk.

Sehingga ke hari itu, tiada surat guaman yang sampai padanya. Namun, surat yang satu ini telah membangkitkan resah di hatinya. Maisarah cuba bertenang. Dibukanya surat bersampul putih itu perlahan.

Matanya terbeliak apabila membaca isi kandungan surat bertaip kemas itu. Dia membaca ayat-ayat itu berulang kali. Mimpikah dia? Maisarah mengetap bibirnya. Dia perlu bertindak pantas. Jemarinya menekan interkom.

“Tiara, saya nak keluar.

Cancel appointment saya pagi ni.” Tanpa membuang masa dia menuju ke luar. Tidak sabar rasanya untuk tiba ke destinasi yang dituju.

Adakah ini penyelesaian di sebalik masalah yang membebankannya selama ini? Dia hanya mampu berdoa. Semoga nasib berpihak padanya kali ini. Apabila dia sampai ke bangunan pencakar langit itu, dia berhenti seketika. Cuba memastikan tempat ditujunya itu betul. Ya! Dia tidak silap. Lantas dipercepatkan langkahnya memasuki perut bangunan itu.

“Ya, Encik Fahmi sedang menunggu puan.” Gadis bertudung litup di hadapannya membawa dia menuju ke satu bilik. Maisarah melangkah masuk.

“Puan Maisarah, terima kasih sebab sudi datang. Saya Fahmi. Peguam peribadi arwah suami puan.” Lelaki di hadapannya menghulurkan tangan.

Mereka berjabat tangan.

“Saya tahu puan pasti tertanya-ta-nya kenapa saya minta puan datang ke mari.

Saya selaku peguam yang diamanahkan oleh arwah suami puan cuma menjalankan amanah sahaja. Puan tentu sudah sedia maklum tentang aset yang arwah suami puan ada sekarang.

Semua aset termasuk syarikat, rumah, saham dan wang simpanan peribadi arwah suami puan telah diwasiatkan kepada puan. Hak milik itu berkuat kuasa sebaik saja Encik Johan meninggal dunia.” Maisarah tergamam. Ya Allah! Dia bersyukur. Inilah yang diharapkannya selama ini.

Berhari-hari dia membuat solat hajat dan berdoa semoga masalahnya itu dipermudahkan.

Akhirnya dia menerima kejutan itu.

“Saya tahu puan pasti terkejut.

Sebenarnya arwah suami puan telah meletakkan nama puan sebagai waris kepada semua harta sejak dua tahun yang lepas. Arwah mahu saya merahsiakannya daripada puan. Dia tidak mahu sesiapa tahu lebih-lebih lagi keluarga arwah. Saya tidak dimaklumkan kenapa arwah berbuat demikian. Sebagai peguam, saya akur dengan permintaan arwah.” “Tapi, macam mana dengan wang RM300,000 yang dipinjamkan oleh Datin Karmila? Dia mahu menuntut haknya. Dalam hal ini, saya tak tahu nak berbuat apa. Saya tahu arwah suami saya ada meminjam wang sebanyak itu daripada mamanya sewaktu dia mahu membuka syarikat.” Maisarah menyatakan kegusarannya. Adakah dengan sebab itu dia akan kehilangan hak? Matanya dapat menangkap senyuman pada wajah peguam yang agak berusia itu.

“Itu puan jangan risau. Arwah suami puan telah melangsaikan hutangnya sebelum meninggal dunia. Saya ada menyimpan dokumen berkenaan pembayaran itu. Puan jangan risau.” Fahmi cuba meleraikan kebimbangan yang bersarang di hati wanita itu.

Maisarah menarik nafas lega.

Sungguh dia tidak menyangka arwah suaminya telah bersedia terlebih dahulu. Mungkin arwah suaminya tahu dia pasti akan dihimpit masalah jika hak pembahagian harta itu tidak disempurnakan dengan baik.

Maisarah tersenyum pahit.

Di sebalik kedukaan itu dia merasai nikmat kasih sayang Johan yang masih lagi menemaninya kala itu.

“Tahniah! Saya tahu puan mampu melaksanakan amanah arwah dengan jayanya.” Ucapan tahniah itu terbit daripada bibir peguam peribadi arwah suaminya yang turut dilantik oleh Maisarah sebagai peguam syarikatnya. Syarikatnya telah berjaya mendapat tender projek bernilai jutaan ringgit daripada pelabur asing.

“Terima kasih.” Hanya itu yang mampu diucapkan. Dia cukup terharu kerana menerima pujian itu. Walhal, pada mulanya dia hampir pengsan apabila dimaklumkan akan memegang jawatan sebagai pengarah syarikat. Hampir saja dia menolak.

Namun, pesanan arwah suaminya telah membuatkannya kembali mengumpul sisa kekuatan.

“Saya tahu awak tak akan mampu melaksanakan tanggungjawab sebesar itu. Kalau awak tak dapat jaga syarikat dan cucu kami dengan baik.

Ada lebih baik kami saja yang menjaganya. Kami akan beri apa yang kamu tak mampu beri pada dia.” Tergiang-ngiang kembali kata-kata sinis ibu mentuanya apabila mendapat berita dia akan menerajui syarikat arwah suaminya.

Maisarah cuba bersabar.

Kata-kata penghinaan itu tidak meninggalkan kudis buatnya.

Kini, dia telah membuktikan bahawa dia mampu memikul tanggungjawab itu. Menjadi wanita berkerjaya, sekali gus ibu tunggal pada anaknya.

Matanya merenung langit luas. Bibirnya mengukir senyuman puas apabila berjaya melaksanakan impian arwah suaminya itu. Impian arwah suaminya yang mahu dia berkongsi impian bersama telah terlaksana. “Impian ini bukan impian abang sahaja tapi impian kita.”

Setitik Cahaya Terang… di Sana

Waktu …
semakin menghilang
dan berlalu

Sebuah perjalanan panjang
telah kulalui
sebagai naik turun lembah pegunungan
sebagai berjalan di atas onak duri kehidupan
seperti itulah adanya

pagi ini…
cuaca dan alam, sunyi, senyap dalam diam
seperti hati dan jiwaku
sunyi, sepi, senyap
dalam diam dan dingin malam
teriring rintik… rintik hujan

tengah malam, dini hari
kuterkesiap, sekejap, kemudian merenung
kuterjaga, seperti kuterlahir kembali
seperti sekian tahun yang tlah lalu
seperti sekian tahun yang lalu saat ku terlahir ke dunia
ketika bayang-bayang masa lalu itu terngiang
ketika segala yang tlah lalu itu datang dalam ingatan
tak terasa air mata ini terasa
hangat mengalir lalu…

dari sekian kali ku terjaga di saat yang sama masa yang lalu
aku kembali teringat, ini kali kedua ku terbangun dalam sepi

namun apapun itu
tidak ada yang berjalan, kecuali atas kehendak-Nya
semua yang berlalu, biarlah berlalu

ku termenung dalam do’a
segala yang telah kulalui
adalah hal terbaik yang pernah ada dalam hidupku
dan itu semua adalah nikmat karunia-Nya

tak sedikit hikmah yang bisa kupelajari
dari sekian jalan berliku yang tlah kuturut
itu bukan sekedar perjalanan
itu bukan sekedar langkah-langkah panjang
itu adalah hal paling berarti
sekali ku berjalan
dan tak kan kan kembali

Sesaat ku terkesiap
ku tersadar, kemudian
bagaimanapun keadaan malam ini
adalah keindahan tersendiri yang pernah kunikmati
dalam kesepian dan kesunyian senyap pagi dini hari
ku mencoba menghibur diri

ya, saat ini, adalah waktu dimana umurku berkurang satu tahun lagi
aku tahu, alam ikut bersedih, sekaligus bahagia
karena umur masih terus berjalan, dan itu adalah karunia
dimana aku masih diberi kesempatan
untuk menyempurnakan hati
bukan … tapi
untuk memperbaiki diri,
jiwa dan hati

hal yang paling berharga adalah
saat-saat kulalui, bertemu dengan mereka
orang-orang yang pernah
memberi kesempatan aku menyayanginya
keluarga, teman, sahabat, orang-orang terkasih
semangat, motivasi, kebersamaan, sillaturahmi
ya … mereka yang terbaik

onak duri kehidupan yang tlah terjalani
adalah sebuah karunia keindahan, kasih sayang Illahi
kucoba berhenti sejenak
ku menatap sesaat ke depan
setitip cahaya terang di sana
ku tahu satu saat kan jadi
sinar benderang …

Ya Allah …
Segala Puji Bagimu
Syukur kupanjatkan padaMu
Atas segala yang terbaik, yang telah Engkau karuniakan pada hamba
Ampunilah segala khilaf dan dosa hamba Ya Allah
Dan bimbinglah hamba, untuk selalu selalu dan selalu beristghfar kepada-Mu
Tetapkanlah hamba dalam jalan lurus yakni jalan-Mu
Sebagaimana jalan-jalan orang yang beruntung, penghuni Surga-Mu
Tetapkanlah hamba untuk selalu bersujud
dan bersyukur atas segala nikmat-Mu
Tetapkanlah hamba untuk selalu bermunajat kepada-Mu
Bimbinglah hamba dengan petunjuk-Mu yang Agung
Kepada Ibu.. Ibu.. Ibu dan Ayah … tercinta
Kepada keluarga, kerabat, teman, sahabat …
Berikanlah yang terbaik untuk mereka Ya Allah,
segala yang terbaik
karena mereka adalah yang terbaik …

Amin

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.